Harga Naik Gila-gilaan, Emas Sumbang Inflasi 25 Bulan Berturut-turut

Harga Naik Gila-gilaan, Emas Sumbang Inflasi 25 Bulan Berturut-turut

nuansaberita.com – Harga emas di pasar domestik terus mencatat kenaikan signifikan, menyumbang inflasi selama 25 bulan berturut-turut. Lonjakan harga ini membuat masyarakat merasakan dampak langsung, terutama bagi sektor perhiasan, perbankan syariah, hingga investasi logam mulia.

Para analis ekonomi menilai, tren kenaikan harga emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global seperti inflasi dunia dan nilai tukar dolar, tetapi juga oleh permintaan lokal yang tinggi. Permintaan emas untuk investasi di Indonesia tetap stabil, sehingga meski inflasi umum terkendali, emas tetap menjadi penyumbang inflasi utama.

Selain itu, harga emas yang terus naik membuat sebagian masyarakat menggeser pola konsumsi mereka. Barang-barang kebutuhan primer dan investasi kecil menjadi terdampak, karena sebagian pendapatan dialihkan untuk membeli emas atau menyesuaikan biaya investasi.

Faktor Kenaikan Harga Emas

Harga emas meningkat akibat kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, nilai dolar AS, ketegangan geopolitik, dan kebijakan suku bunga bank sentral menjadi pemicu utama. Ketika dolar melemah, harga emas cenderung naik karena menjadi aset safe haven bagi investor.

Sementara dari sisi domestik, permintaan masyarakat Indonesia terhadap emas tetap tinggi, baik untuk investasi maupun keperluan perhiasan. Ini membuat pasokan emas menjadi lebih terbatas, sehingga harga naik terus-menerus. Pusat Logistik Emas Nasional juga mencatat kenaikan transaksi emas perhiasan selama 2 tahun terakhir.

Analis keuangan menekankan bahwa kenaikan harga emas ini bersifat siklus tahunan. Pada momen tertentu, seperti menjelang akhir tahun dan musim pernikahan, permintaan emas cenderung meningkat sehingga memicu kenaikan harga yang lebih signifikan.

Dampak Emas Terhadap Inflasi

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), emas tercatat sebagai salah satu komoditas yang menyumbang inflasi secara konsisten selama 25 bulan berturut-turut. Sumbangan ini mencerminkan pengaruh harga emas terhadap indeks harga konsumen (IHK), meski komoditas lain relatif stabil.

Penyumbang inflasi emas biasanya berasal dari segmen perhiasan, investasi, dan perdagangan logam mulia. Masyarakat yang menyimpan emas untuk jangka panjang sering menyesuaikan pembelian atau menjual sebagian aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, sehingga berimbas pada daya beli.

Dampak lain dari kenaikan harga emas terhadap inflasi adalah pengaruh psikologis. Ketika masyarakat melihat harga emas naik terus-menerus, mereka cenderung memperkirakan inflasi akan meningkat, sehingga pola belanja dan investasi pun berubah. Hal ini membuat inflasi yang sebenarnya bisa terdorong lebih tinggi karena ekspektasi masyarakat.

Strategi Menghadapi Inflasi Akibat Emas

Para ahli ekonomi menyarankan agar masyarakat tetap bijak dalam menghadapi inflasi akibat harga emas yang tinggi. Salah satunya dengan membagi investasi emas dalam berbagai bentuk, seperti perhiasan, logam batangan, hingga sertifikat emas. Diversifikasi ini dapat meminimalkan risiko kerugian akibat fluktuasi harga emas yang ekstrem.

Selain itu, pemerintah dan bank sentral perlu memperhatikan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas harga. Salah satunya adalah pengaturan pasokan emas dan peningkatan literasi keuangan masyarakat agar tidak berlebihan membeli emas sebagai safe haven.

Beberapa pelaku industri juga mulai mengantisipasi dampak harga emas terhadap inflasi dengan menawarkan program cicilan emas, diskon, dan paket investasi jangka panjang, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga tanpa memicu lonjakan inflasi lebih tinggi.

Kesimpulan

Harga emas yang terus naik signifikan menjadi penyumbang inflasi selama 25 bulan berturut-turut, memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi domestik. Faktor global seperti nilai dolar, kebijakan bank sentral, dan ketegangan geopolitik, serta permintaan domestik yang tinggi, menjadi pemicu utama.

Strategi menghadapi fenomena ini mencakup diversifikasi investasi emas, kebijakan moneter yang tepat, dan edukasi masyarakat. Tanpa langkah antisipatif, inflasi akibat emas bisa terus berlanjut, memberi tekanan tambahan pada ekonomi keluarga dan pasar domestik.

Purbaya: Saya Belum Lihat Program yang Ciptakan Lapangan Kerja Seperti Industri Rokok jika Ditutup Semua

Purbaya: Saya Belum Lihat Program yang Ciptakan Lapangan Kerja Seperti Industri Rokok jika Ditutup Semua

nuansaberita.com – Direktur Eksekutif Purbaya menyoroti pentingnya industri rokok bagi lapangan kerja nasional. Menurutnya, belum ada program pemerintah yang benar-benar mampu menggantikan jumlah pekerjaan yang akan hilang jika sektor ini ditutup total.

Purbaya menekankan bahwa industri rokok bukan hanya soal konsumsi, tapi juga menyerap tenaga kerja dari berbagai lini, mulai dari petani tembakau, pabrik rokok, distribusi, hingga pedagang eceran. Menurutnya, jika semua ditutup, pemerintah harus memiliki strategi pengganti yang setara agar tidak menimbulkan krisis lapangan kerja dan ekonomi.

Dalam pernyataannya, Purbaya juga mengingatkan bahwa pembahasan soal penutupan industri rokok sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara kesehatan publik dan ekonomi rakyat. Tanpa program substitusi lapangan kerja, dampak sosial akan sangat besar.

Peran Industri Rokok dalam Menyerap Tenaga Kerja

Industri rokok di Indonesia menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap lapangan kerja. Mulai dari perkebunan tembakau, pengolahan, hingga distribusi ke seluruh Nusantara, ribuan orang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.

Purbaya menekankan bahwa penutupan total industri rokok akan berdampak domino, tidak hanya pada pekerja pabrik tapi juga petani tembakau, pedagang rokok, jasa logistik, hingga UMKM yang berperan sebagai pemasok bahan baku. Hal ini akan menimbulkan gelombang pengangguran dan menekan ekonomi lokal.

Selain itu, industri rokok juga menjadi sumber pendapatan negara melalui cukai dan pajak, yang secara tidak langsung mendukung pembangunan dan program sosial. Tanpa alternatif yang jelas, penutupan industri rokok bisa menimbulkan kerugian ganda, baik di sisi ekonomi maupun sosial.

Kesenjangan Program Pengganti Lapangan Kerja

Purbaya mengungkapkan, hingga kini pemerintah belum memiliki program yang setara dalam menyerap tenaga kerja seperti yang dilakukan industri rokok. Beberapa program pelatihan kerja dan sektor baru memang ada, namun skalanya masih jauh dari mencakup ribuan pekerja yang terdampak.

Menurut Purbaya, sektor pengganti harus memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, bukan hanya janji atau program skala kecil. Jika tidak, penutupan industri rokok bisa menimbulkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial di masyarakat yang bergantung pada industri ini.

Lebih lanjut, Purbaya menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan strategi transisi bertahap, termasuk pelatihan tenaga kerja, dukungan finansial, dan insentif bagi sektor alternatif. Hal ini penting agar pekerja dan petani tembakau tetap bisa produktif dan tidak kehilangan penghasilan.

Dampak Sosial dan Ekonomi Jika Industri Rokok Ditutup

Penutupan total industri rokok berpotensi menimbulkan krisis lapangan kerja dalam skala besar. Purbaya menekankan, efek sosialnya bisa meluas hingga keluarga pekerja, termasuk anak-anak yang bergantung pada pendapatan orang tua.

Dari sisi ekonomi, penghasilan negara dari cukai rokok dan pajak akan menurun drastis, sementara biaya sosial untuk kompensasi pekerja meningkat. Purbaya menegaskan bahwa tanpa program pengganti yang matang, masyarakat akan menghadapi tekanan ekonomi serius.

Selain itu, Purbaya juga menyoroti risiko munculnya pasar gelap rokok. Jika industri resmi ditutup tanpa alternatif, rokok ilegal bisa merajalela, menimbulkan masalah baru baik dari sisi hukum maupun kesehatan masyarakat.

Kesimpulan

Purbaya menekankan pentingnya mempertimbangkan keseimbangan antara kesehatan publik dan ekonomi rakyat. Sampai saat ini, belum ada program yang mampu menggantikan lapangan kerja skala besar dari industri rokok jika ditutup total.

Pemerintah perlu menyiapkan strategi transisi yang jelas, termasuk pelatihan tenaga kerja, dukungan finansial, dan insentif sektor baru. Tanpa itu, penutupan industri rokok berpotensi menimbulkan krisis lapangan kerja, tekanan ekonomi, dan masalah sosial di masyarakat yang bergantung pada sektor ini.