Purbaya: Saya Belum Lihat Program yang Ciptakan Lapangan Kerja Seperti Industri Rokok jika Ditutup Semua
nuansaberita.com – Direktur Eksekutif Purbaya menyoroti pentingnya industri rokok bagi lapangan kerja nasional. Menurutnya, belum ada program pemerintah yang benar-benar mampu menggantikan jumlah pekerjaan yang akan hilang jika sektor ini ditutup total.
Purbaya menekankan bahwa industri rokok bukan hanya soal konsumsi, tapi juga menyerap tenaga kerja dari berbagai lini, mulai dari petani tembakau, pabrik rokok, distribusi, hingga pedagang eceran. Menurutnya, jika semua ditutup, pemerintah harus memiliki strategi pengganti yang setara agar tidak menimbulkan krisis lapangan kerja dan ekonomi.
Dalam pernyataannya, Purbaya juga mengingatkan bahwa pembahasan soal penutupan industri rokok sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara kesehatan publik dan ekonomi rakyat. Tanpa program substitusi lapangan kerja, dampak sosial akan sangat besar.

Peran Industri Rokok dalam Menyerap Tenaga Kerja
Industri rokok di Indonesia menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap lapangan kerja. Mulai dari perkebunan tembakau, pengolahan, hingga distribusi ke seluruh Nusantara, ribuan orang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
Purbaya menekankan bahwa penutupan total industri rokok akan berdampak domino, tidak hanya pada pekerja pabrik tapi juga petani tembakau, pedagang rokok, jasa logistik, hingga UMKM yang berperan sebagai pemasok bahan baku. Hal ini akan menimbulkan gelombang pengangguran dan menekan ekonomi lokal.
Selain itu, industri rokok juga menjadi sumber pendapatan negara melalui cukai dan pajak, yang secara tidak langsung mendukung pembangunan dan program sosial. Tanpa alternatif yang jelas, penutupan industri rokok bisa menimbulkan kerugian ganda, baik di sisi ekonomi maupun sosial.
Kesenjangan Program Pengganti Lapangan Kerja
Purbaya mengungkapkan, hingga kini pemerintah belum memiliki program yang setara dalam menyerap tenaga kerja seperti yang dilakukan industri rokok. Beberapa program pelatihan kerja dan sektor baru memang ada, namun skalanya masih jauh dari mencakup ribuan pekerja yang terdampak.
Menurut Purbaya, sektor pengganti harus memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, bukan hanya janji atau program skala kecil. Jika tidak, penutupan industri rokok bisa menimbulkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial di masyarakat yang bergantung pada industri ini.
Lebih lanjut, Purbaya menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan strategi transisi bertahap, termasuk pelatihan tenaga kerja, dukungan finansial, dan insentif bagi sektor alternatif. Hal ini penting agar pekerja dan petani tembakau tetap bisa produktif dan tidak kehilangan penghasilan.
Dampak Sosial dan Ekonomi Jika Industri Rokok Ditutup
Penutupan total industri rokok berpotensi menimbulkan krisis lapangan kerja dalam skala besar. Purbaya menekankan, efek sosialnya bisa meluas hingga keluarga pekerja, termasuk anak-anak yang bergantung pada pendapatan orang tua.
Dari sisi ekonomi, penghasilan negara dari cukai rokok dan pajak akan menurun drastis, sementara biaya sosial untuk kompensasi pekerja meningkat. Purbaya menegaskan bahwa tanpa program pengganti yang matang, masyarakat akan menghadapi tekanan ekonomi serius.
Selain itu, Purbaya juga menyoroti risiko munculnya pasar gelap rokok. Jika industri resmi ditutup tanpa alternatif, rokok ilegal bisa merajalela, menimbulkan masalah baru baik dari sisi hukum maupun kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Purbaya menekankan pentingnya mempertimbangkan keseimbangan antara kesehatan publik dan ekonomi rakyat. Sampai saat ini, belum ada program yang mampu menggantikan lapangan kerja skala besar dari industri rokok jika ditutup total.
Pemerintah perlu menyiapkan strategi transisi yang jelas, termasuk pelatihan tenaga kerja, dukungan finansial, dan insentif sektor baru. Tanpa itu, penutupan industri rokok berpotensi menimbulkan krisis lapangan kerja, tekanan ekonomi, dan masalah sosial di masyarakat yang bergantung pada sektor ini.